Senin, 18 Mei 2015
Maraknya Budaya Contek Mencontek Dikalangan Pelajar Indonesia
Saya sebagai pelajar Indonesia bingung dengan perilaku pelajar Indonesia. Zaman sekarang budaya contek mencontek semakin bebas dikalangan pelajar Indonesia. Dan yang lebih anehnya lagi tidak ada perasaan bersalah sedikitpun di wajahnya. Astafirullah….
Bagaimana mungkin seorang penerus bangsa telah membudidayakan sikap korupsi sejak dini. Nauzubillah. Saya sudah bayangkan betapa hancurnya Negara Indonesia dikemudian hari jika penerus bangsa terus terusan mencontek.
Tapi menurut saya mereka mencontek bukan salah mereka. Tapi didikan orangtua mereka yang salah. Ya mungkin orang tua mereka selalu memaksa agar nilai anak anaknya harus memuaskan. Itu sebanya mereka berani mencontek agar tidak dimarahi oleh orangtuanya.
Di sekolah saya, budaya mencontek ini menjadi trend. Setiap kali ada UH (Ujian Harian), rata rata teman satu kelas saya mencontek semua. Berbeda dengan teman saya yang satu ini, teman saya yang ini bertanya kepada orangtuanya. “bu, kalau nilai UH aku jelek bagaimana bu” ceritanya. “ya gak apa apa, tapi kamu harus rajin lagi belajar” begitu ceritanya padaku. Tetapi katanya dia benci dengan kata kata contek.
Menurut saya pemerintah harus lebih bijak lagi menanamkan sifat anti korupsi kepada pelajar Indonesia. Pak presiden jokowi, jikalau bapak membaca postingan ini, saya mohon kepada bapak agar bapak membuat undang undang tentang hukum contek mencontek. Bapak harus tegas kepada pelajar Indonesia yang berbuat akan hal itu. akan tetapi jika bapak tidak menyetujui psaran saya, mungkin mempunyai pendapat lain yang baik dari saran saya.
Tapi pada intinya, saya benci yang namanya contek mencontek. Dan saya ingin contek mencontek ini tidak ada lagi di Indonesia saya ingin penerus bangsa bebas dari korupsi. Dan slah satu cara agar mereka terbebas adalah membuat undang undang tentang mencontek, atau tidak sediakan polisi di sekolah sebanyak lima orang per local. Jadinya ketika UH tidak akan ada lagi yang mencontek.
Selasa, 12 Mei 2015
Mungkin Kamu Terlambat
Hari ini mungkin hari yang tidak menyenangkan. Ya tadi pagi aku bertemu sama sang pangeranku. Tapi dia seakan mengacuhkanku. Tanpa ada tegur sama diantara kami, dia berjalan menuju kelasnya.
Dalam hati aku merasa senang akan tetapi aku juga sedih. Sedih karena tak dihiraukannya. Tapi, itu juga salahku, salahku yang terkesan cuek kepadanya. Sudah beberapa bulan ini aku jatuh cinta kepadanya. Ini bukan cinta yang pertama dan juga bukan pada pandangan pertama.
Semenjak aku jatuh cinta padanya, selalu saja lembaran demi lembaran hatiku tergores oleh tinta sakit hati yang dibuat olehnya. Tidak hanya cueknya yang membuatku sakit hati, tapi ancaman dan gertakan dari orang yang menyukainya menghiasi hidupku setiap hari. Selain itu, tak segan ku mendengar cacian dan makian yang terdengar dari mulutnya untukku.
“kenapa dia cuek padaku?, kepada mereka, dia tidak cuek” pertanyaan itu selalu mengganjal dalam hatiku. aku tau dia tidak menyukaiku, dia tidak menyayangiku. Mungkin karena aku yang jelek, dan tak sepintar dirinya. Dia selalu menjadi juara pertama dikelasnya, bahkan disekolahan dia menjadi siswa teladan. Dia selalu mendapat juara umum disetiap semesternya.
Dia mempunyai pacar yang sangat cantik menurutku. Bahkan kepintaran pacarnya hampir bisa menyamai kepintaran dirinya. Mana mungkin Gio mencintaiku. Ya namanya adalah gio.
Tiap hari, hampir setipa cewek yang menyebut namanya. Mereka selalu menginginkan gio putus dengan pacarnya. Aku tak mengetahui nama pacarnya, dan aku juga gak mau tahu soal itu. tapi yang pasti, pacarnya cantik dan juga pintar.
Aku ingat ketika gio berkata tentangku kepada teman temannya, disaat aku lewat didepannya “Orang sok cantik lewat nih!” katanya pada teman temannya. Hatiku saat itu perih, malu juga menggerogoti batinku. Aku terus berjalan dengan cepat melewati tempat nongkrong dia dengan temannya. Sakit hatiku, tapi aku harus menerima kenyataan kalau dia tidak mencintaiku.
Pernah sekali, waktu aku lewat didepan kelasnya. Kebetulan dia duduk bersama teman temannya. Didepan kelasnya, dia dan teman temannya seperti membicarakanku. Dia dan temannya menatap sinis diriku, hatiku hancur melihat tatapannya.
Sekarang ku mencoba melupakannya. Tetapi, hatiku tak bisa ku bohongi. Wajahnya salalu terbayang olehku. Aku snagat mencintanya. Walaupun cinta tulusku dibalas olehnya dengan cacian dan makian.
Tidak punya perasaankah kau?, tapi biarlah semua berlalu. Walau hari hariku dikotori oleh lumpur sakit hati yang sangat panas. Kini aku harus sanggup melihat kemesraannya dengan pacanya. Kini aku harus sanggup menyatukan kepingan hatiku yang terpisah. Kini aku harus sanggup untu memilih dan memunguti kebahagiaanku yang telah dibuangnya. Dan kini aku harus sanggup untuk melupakannya.Itu semua telah ku coba, tapi aku tidak bisa dan sungguh aku tidak bisa. Bahkan tiap malam aku menangisinya, menangisi dia yang aku cintai.
Mungkin banyak temanku paginya bertanya “kenapa matamu bengkak sha?”. Tapi aku selalu menjawab “tadi pagi habis bantu mama ngiris bawang”. Jawaban yang aneh menurutku. Padahal aku tidka pernah ngiris bawang. Semuannya dikerjakan oleh pembantuku.
Kalau gak salah hari itu hari rabu, aku dengar dia putus dengan pacarnya. “eh, sha tau gak kabar tebaru, gio dan shena putus” kata seorang temanku. Itu pertama kalinya aku mengetahui nama pacarnya. Hatiku sangat senang mendengar kabar itu.
Tapi bagaimana dengan Gio?, kulihat dirinya dari kejauhan, tampak sedih dalam keburaman cintanya. Ingin ku mencoba untuk mendekatinya, tapi aku ak bisa. Aku takut dia meluncurkan cacian dan makiannya untukku. Memang miris kisah cintaku.
Kini aku sendiri, dan dia juga sendiri. Kini aku sepi, dia juga merasakannya. Ingin rasanya ku menghampirinya, tapi aku takut dengan cacian dan makiannya.Sekarang aku mencoba melupakannya. Dan hari ini adalah hari terakhirku melihatnya, karena kuharus pergi keluar kota untuk sementara waktu.
Bye gio
******
Aku tidak menyangka, disaat aku sudah bahagia dengan kehidupan baruku, gio datang lagi. Kali ini disekolah yang berbeda, didaerah yang berbeda pula.
Kini gio seklas denganku, dia kini tampak lebih pendiam. Aku tak berani menyapanya. Kini aku tak merasakan perasaan yang dulu membuatku menderita. Sekarang ku cuek dengan kehadirannya.
Dia, kini menjadi sosok gio yang berbeda, gio yang pendiam. Gio yang suka menyendiri. Pada suatu hari kalau gak salah hari itu hari selasa, dia memanggilku, disaat itu aku sedang duduk ditaman bersama teman temanku.
“sha, kamu masih suka sama aku”. Entah setan apa yang merasuki dirinya hingga dia berkata seperti itu. “ emang kenapa?” aku heran. “aku cinta kamu, maaf dulu aku mengejekmu. Aku melakukan itu karena aku mencintai kamu. Aku sengaja memutuskan shena karena kamu. Aku sayang sama kamu sha” katanya kepadaku.
Aku tak tahu jawabannya, yang pasti perasaan itu sekrang tak ada lagi.” Tapi bagaimana dengan kamu yang cuek kepadaku? Bagaimana dengan kamu yang selalu mencaciku dulu? Bagaimana dengan kamu dan temanmu yang selalu membicarakanku? Bagaimana denganmu yangs elalu jutek denganku?, dan yang terakhir kenapa kamu terlihat murung dan selalu melamun ketika putus dengan shena?” Tanya beruntunku padanya.
“kalau soal itu, aku akan jawab. Ketahuilah, ketika kamu mendahuluiku, aku selalu memperhatikan kamu, aku menatapmu. Aku hafal dengan cara jalanmu. Aku selalu mencacimu karena aku ingin selalu didekatmu, hanya itu yang bisa mendekatku denganmu. Aku membicarakanmu karena aku sayng kamu. Aku bialng pada temanku, bahwa kau mencintaimu. Aku sayang sama kamu. Aku bilang bahwa kamu ada dihatiku. Aku murung, aku merenung karena aku bingung bagaimana cara menyatakan perasaanku padamu”. Dia menangis di hadapanku, tapu aku hanya menjawab “aku telah melupakanmu”.
karangan : Fhitratul illahi
Dalam hati aku merasa senang akan tetapi aku juga sedih. Sedih karena tak dihiraukannya. Tapi, itu juga salahku, salahku yang terkesan cuek kepadanya. Sudah beberapa bulan ini aku jatuh cinta kepadanya. Ini bukan cinta yang pertama dan juga bukan pada pandangan pertama.
Semenjak aku jatuh cinta padanya, selalu saja lembaran demi lembaran hatiku tergores oleh tinta sakit hati yang dibuat olehnya. Tidak hanya cueknya yang membuatku sakit hati, tapi ancaman dan gertakan dari orang yang menyukainya menghiasi hidupku setiap hari. Selain itu, tak segan ku mendengar cacian dan makian yang terdengar dari mulutnya untukku.
“kenapa dia cuek padaku?, kepada mereka, dia tidak cuek” pertanyaan itu selalu mengganjal dalam hatiku. aku tau dia tidak menyukaiku, dia tidak menyayangiku. Mungkin karena aku yang jelek, dan tak sepintar dirinya. Dia selalu menjadi juara pertama dikelasnya, bahkan disekolahan dia menjadi siswa teladan. Dia selalu mendapat juara umum disetiap semesternya.
Dia mempunyai pacar yang sangat cantik menurutku. Bahkan kepintaran pacarnya hampir bisa menyamai kepintaran dirinya. Mana mungkin Gio mencintaiku. Ya namanya adalah gio.
Tiap hari, hampir setipa cewek yang menyebut namanya. Mereka selalu menginginkan gio putus dengan pacarnya. Aku tak mengetahui nama pacarnya, dan aku juga gak mau tahu soal itu. tapi yang pasti, pacarnya cantik dan juga pintar.
Aku ingat ketika gio berkata tentangku kepada teman temannya, disaat aku lewat didepannya “Orang sok cantik lewat nih!” katanya pada teman temannya. Hatiku saat itu perih, malu juga menggerogoti batinku. Aku terus berjalan dengan cepat melewati tempat nongkrong dia dengan temannya. Sakit hatiku, tapi aku harus menerima kenyataan kalau dia tidak mencintaiku.
Pernah sekali, waktu aku lewat didepan kelasnya. Kebetulan dia duduk bersama teman temannya. Didepan kelasnya, dia dan teman temannya seperti membicarakanku. Dia dan temannya menatap sinis diriku, hatiku hancur melihat tatapannya.
Sekarang ku mencoba melupakannya. Tetapi, hatiku tak bisa ku bohongi. Wajahnya salalu terbayang olehku. Aku snagat mencintanya. Walaupun cinta tulusku dibalas olehnya dengan cacian dan makian.
Tidak punya perasaankah kau?, tapi biarlah semua berlalu. Walau hari hariku dikotori oleh lumpur sakit hati yang sangat panas. Kini aku harus sanggup melihat kemesraannya dengan pacanya. Kini aku harus sanggup menyatukan kepingan hatiku yang terpisah. Kini aku harus sanggup untu memilih dan memunguti kebahagiaanku yang telah dibuangnya. Dan kini aku harus sanggup untuk melupakannya.Itu semua telah ku coba, tapi aku tidak bisa dan sungguh aku tidak bisa. Bahkan tiap malam aku menangisinya, menangisi dia yang aku cintai.
Mungkin banyak temanku paginya bertanya “kenapa matamu bengkak sha?”. Tapi aku selalu menjawab “tadi pagi habis bantu mama ngiris bawang”. Jawaban yang aneh menurutku. Padahal aku tidka pernah ngiris bawang. Semuannya dikerjakan oleh pembantuku.
Kalau gak salah hari itu hari rabu, aku dengar dia putus dengan pacarnya. “eh, sha tau gak kabar tebaru, gio dan shena putus” kata seorang temanku. Itu pertama kalinya aku mengetahui nama pacarnya. Hatiku sangat senang mendengar kabar itu.
Tapi bagaimana dengan Gio?, kulihat dirinya dari kejauhan, tampak sedih dalam keburaman cintanya. Ingin ku mencoba untuk mendekatinya, tapi aku ak bisa. Aku takut dia meluncurkan cacian dan makiannya untukku. Memang miris kisah cintaku.
Kini aku sendiri, dan dia juga sendiri. Kini aku sepi, dia juga merasakannya. Ingin rasanya ku menghampirinya, tapi aku takut dengan cacian dan makiannya.Sekarang aku mencoba melupakannya. Dan hari ini adalah hari terakhirku melihatnya, karena kuharus pergi keluar kota untuk sementara waktu.
Bye gio
******
Aku tidak menyangka, disaat aku sudah bahagia dengan kehidupan baruku, gio datang lagi. Kali ini disekolah yang berbeda, didaerah yang berbeda pula.
Kini gio seklas denganku, dia kini tampak lebih pendiam. Aku tak berani menyapanya. Kini aku tak merasakan perasaan yang dulu membuatku menderita. Sekarang ku cuek dengan kehadirannya.
Dia, kini menjadi sosok gio yang berbeda, gio yang pendiam. Gio yang suka menyendiri. Pada suatu hari kalau gak salah hari itu hari selasa, dia memanggilku, disaat itu aku sedang duduk ditaman bersama teman temanku.
“sha, kamu masih suka sama aku”. Entah setan apa yang merasuki dirinya hingga dia berkata seperti itu. “ emang kenapa?” aku heran. “aku cinta kamu, maaf dulu aku mengejekmu. Aku melakukan itu karena aku mencintai kamu. Aku sengaja memutuskan shena karena kamu. Aku sayang sama kamu sha” katanya kepadaku.
Aku tak tahu jawabannya, yang pasti perasaan itu sekrang tak ada lagi.” Tapi bagaimana dengan kamu yang cuek kepadaku? Bagaimana dengan kamu yang selalu mencaciku dulu? Bagaimana dengan kamu dan temanmu yang selalu membicarakanku? Bagaimana denganmu yangs elalu jutek denganku?, dan yang terakhir kenapa kamu terlihat murung dan selalu melamun ketika putus dengan shena?” Tanya beruntunku padanya.
“kalau soal itu, aku akan jawab. Ketahuilah, ketika kamu mendahuluiku, aku selalu memperhatikan kamu, aku menatapmu. Aku hafal dengan cara jalanmu. Aku selalu mencacimu karena aku ingin selalu didekatmu, hanya itu yang bisa mendekatku denganmu. Aku membicarakanmu karena aku sayng kamu. Aku bialng pada temanku, bahwa kau mencintaimu. Aku sayang sama kamu. Aku bilang bahwa kamu ada dihatiku. Aku murung, aku merenung karena aku bingung bagaimana cara menyatakan perasaanku padamu”. Dia menangis di hadapanku, tapu aku hanya menjawab “aku telah melupakanmu”.
karangan : Fhitratul illahi
Selasa, 05 Mei 2015
AKU BENCI SEMUA
AKU BENCI
SEMUA
Aku benci dengan gemercik air yang terdengar
Aku benci nyanyian jangkrik yang menghimbau
Aku benci dengan kelam yang menyelimuti
Aku benci dengan kabut yang mengintai
Aku benci semua
Ingin ku berteriak
sepanjang laut bebas
Tapi, laut pun enggan
mendengarkannya
Pasir pun muak lalu pergi bersama
laut
Aku benci semua
Enyahlah kau sepi
Pergilah kau kelam
Dan jangan kau dekati ku sunyi
Aku benci semua
Aku ingin terang
Aku ingin mentari sang
penghangat
Aku ingin pelangi yang
mewarnai
Namun, mengapa kau sepi?
Mengapa kelam yang menemani ku?
Dan sunyi yang setia?
Mengapa semua tak adil
Aku benci semua ini.
JATUH CINTA
JATUH CINTA
Hujan malam ini menambah merdu
Setiap hentakan jantungku
Buih buih nafasku terpaku namamu
putaran putaran bayanganmu selalu
menghantuiku
ah, rasa apa ini?
Cinta, mungkinkah aku
mencintai kamu
Setiap ayunan kakiku
Selalu tertuju padamu
Setiap mataku menyapu
Terangkut wajahmu
Ah, rasa ini membuatku
bingung?
Apa ini yang kata orang
cinta?
Jemari jemari kecilku
Mengayun indah terpadu
Menulis indah namamu
Berharap cinta menyatu
Ah, rasa yang sama,
Apa kau kembali?
Pensilku kembali menari disitu
Dibuku usang tempatku dulu menulis namamu
Kabut dan kusam menggerutu
Menyorak tanda tak senang kepadaku
Kutiup dengan hati yang menggebu
Tak sabar membaca tulisanku dulu
Terukir indah namamu disitu
Tempat curahan ketika ku merindu
Ah, perasaan ini
membuatku gila?
Apa kau juga sama?
jemariku menari lagi disitu
menulis puisi indah untukmu
seakan pensilku tau isi hatiku
tanpa hambatan goresan indah tercipta disitu
membuat tarpana hatiku
tapi tak bisa ku lepas bayanganmu
kau pegang erat erat memoriku
ah, apa ini yang
dikatakan jatuh hati?
Aku cinta kamu?
AKU BENCI RASA INI
AKU BENCI
RASA INI
Ketika benih itu tumbuh dalam jiwa
Mengakar didalam hati terdalam
Namun aku tak sanggup dengan semuanya
Engkau seakan tuli dan aku benci itu
Apa akar itu tak pernah
tumbuh dihatimu?
Atau apakah hatimu itu
tandus?
Ah, lahan kritis itu
pelajaranku
Atau benih itu layu
didalam hatimu
Yang pasti kamu tak akan pernah tau
Ketika rasa itu terus tumbuh
Lalu berbuah dan berbunga
Disaat itupun rasa sakit menghimbau
Disaat itupun benci memaksa
Aku harus pergi dan percuma menanam
Di hati tandus dan dingin seperti kau
Tidak bisakah kau tak menyakitiku?
Walau secepat kilat
menyambar saja,
Sepelan angin berhembus
Dan sederas air
mengalir
Ketika bumi merindukan bulan
Hanya matahari yang setia
Ketika hujan merindukan kilat
Hanya petir yang terdengar
Pohon dihati ini mulai
gugur
Bunganya mulai jatuh
Buahnya mulai layu
Dan disaat itu aku
benci rasa ini
Rasa yang tak ku
inginkan
Ingin ku menghempaskan penatku ditepi laut
Ingin ku mengubur sakit ini di pasir pantai
Tapi kelam menyelimuti mata ini
Dan akhirnya semua tak terlihat
Rasa ini tumbuh dengan akar yang kuat
Tanpa ada tangan tangan jahat
Yang berani membabat
Tidakkah kau lihat itu?
Tidakkah kau perhatikan
gelagatku?
Aku benci semua ini
Aku benci rasa ini
Engkau tak pernah peka
Peka terhadap hujan yang menitik
Peka terhadap setetes air yang mengalir
Tapi itu lah kau, kau adalah kau
Dan kau beda dari mereka
Aku benci kau dan perasaan ini.
I am Your Secter Admirer
I am Your
Secret Admirer
Karya : Fhitratul
illahi
Lama
sudah ku menunggu dirinya. Aku bagaikan orang bodoh yang selalu mengharapkan
sesuatu yang tak akan pernah bisa ku miliki. Hari demi hari yang menemaniku
untuk menempuh rasa sakit ini. rasa sakit ketika kau acuhkan.
Mungkin
inilah nasibku, mengenal tanpa dikenali. Mencinta tanpa dicintai. Mengagumi
tanpa dikagumi. Malang benar nasibku. Aku harus puas melihat punggungnya saja.
aku tersenyum hanya melihat gerak gerik bibirnya. Aku pernah melihat senyumnya.
Senyumnya begitu menawan, namun senyum itu bukan untukku, tapi untuk dia,
pacarnya. Pacarnya yang bisa membuat senyumnya terkembang lebar. Pacarnya yang
mampu melukis hatinya yang tadi kosong menjadi berwarna. Sakit melihat itu,
sakit mendengarnya.
Kini
perasaanku hanya untuknya, bukan untuk dia ataupun dia. Aku hanya percaya dia.
Aku yakin dia pria yang baik. Dia beda dari yang lain. dia sangat menghargai
hati perempuan terutama pacarnya. Dia pria sempurna. Aku yakin dia tak akan
pernah menyakiti hati pacarnya. Aku yakin mereka jodoh yang terbaik.
Mungkin,
ku berkata seperti itu hanya untuk menghibur hatiku, namun ini kenyataan. Aku
rela, bahkan sangat rela kalau dia bersamanya. Walau awalnya ku sakit, bahkan aku
tidak makan seharian mendengar kabar itu. akan tetapi, sekarang aku sadar
pacarnya, perempuan yang sempurna.
Walau
kucoba melupakannya. Namun bayang bayang dirinya selalu mengelilingi benakku.
Gemercik namanya selalu mengalun indah ditelingaku. Ingin kupergi dari sini.
Ingin ku berlari sejauh kaki melangkah. Namun percuma, takdir ini tak dapat di
elak.
Tahun
ajaran baru, berharap kita satu kelas. Menjadi sahabat dan bukan pacar. Itu
yang aku inginkan. Mendengar suaranya, itu impianku. Walaupun kelihatannya
sederhana, namun susah untuk terjadi.
Aku
ingin sekali menjadi teman satu kelasnya. Namun kenapa takdir berkata lain.
kenapa dua kali ku mencinta, dua kali juga ku tersakiti. Apa mungkin dia pria
yang jahat. Oh tidak, tidak mungkin. Dia pria yang baik. Dia tidak mungkin
jahat. Rasa sakit ini terjadi karena diriku, bukan karena dia.
Langganan:
Postingan (Atom)
